Disebuah rumah sederhana, hiduplah seorang anak perempuan bernama Anjani Thalia. Ia adalah siswa kelas V di sebuah madrasah ibtidaiyah. Anjani tinggal bersama ayah dan ibunya. Kehidupan keluarganya tidak selalu mudah. Ayahnya bekerja sebagai penjual nasi goreng, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.
Walaupun hidup dalam keterbatasan, Anjani memiliki satu keinginan yang sangat besar, yaitu tetap bersekolah. Baginya, sekolah adalah tempat untuk belajar, bertemu teman, dan meraih cita-cita.
Namun, keadaan ekonomi keluarganya membuat Anjani terancam putus sekolah. Ayah dan ibunya merasa khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolahnya.
“Anjani, Ayah dan Ibu sedang kesulitan. Kami takut tidak mampu membiayai sekolahmu,” kata ayahnya dengan suara lembut.
Mendengar hal itu, hati Anjani terasa sedih. Ia menundukkan kepala dan menahan air matanya.
“Anjani ingin sekali tetap sekolah, Ayah. Anjani akan belajar sungguh-sungguh. Anjani tidak ingin berhenti sekolah,” ucapnya.
Malam itu, Anjani menangis di kamarnya. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk belajar. Melihat kesungguhan putrinya, kedua orang tuanya akhirnya tidak tega.
“Baiklah, Nak. Ayah dan Ibu akan berusaha semampu kami,” kata ibunya sambil memeluk Anjani.
Akhirnya, Anjani kembali didaftarkan di madrasah yang dekat dengan rumahnya, yaitu MIN 5 Kota Banda Aceh. Hati Anjani dipenuhi rasa bahagia. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk belajar dengan rajin dan menjadi anak yang membanggakan kedua orang tuanya.
Hari Pertama yang Membahagiakan
Senin, 5 Februari 2024, menjadi hari yang sangat berkesan bagi Anjani. Pagi-pagi sekali, ia sudah bangun dan mempersiapkan diri. Seragamnya dikenakan dengan rapi. Buku-buku dimasukkan ke dalam tas, lalu ia memeriksa kembali perlengkapan sekolahnya.
Ayah dan ibunya mengantarkan Anjani sampai di depan madrasah.
“Belajar yang rajin, Nak. Jangan lupa selalu berbuat baik kepada teman,” pesan ayahnya.
“Iya, Ayah. Ibu, Anjani berangkat, ya!” jawab Anjani sambil tersenyum.
Sesampainya di sekolah, Anjani berpamitan kepada kedua orang tuanya. Ia kemudian berjalan menuju kelas dengan langkah penuh semangat.
Betapa senangnya hati Anjani ketika mengetahui bahwa ia sekelas dengan Nina, sahabatnya sejak kecil.
“Nina! Ternyata kita sekelas lagi!” seru Anjani dengan gembira.
“Iya, Anjani! Aku juga senang,” jawab Nina.
Tak lama kemudian, terdengar suara mikrofon dari halaman madrasah.
“Seluruh siswa MIN 5 Kota Banda Aceh dimohon segera menuju lapangan untuk mengikuti upacara pagi.”
Anjani segera berlari menuju lapangan. Ia mengenakan topi putih dan tanda pengenal yang terpasang rapi. Wajahnya tampak ceria. Ia merasa bahwa hari pertamanya di madrasah akan menjadi awal yang indah.
Namun, Anjani tidak menyangka bahwa hari itu juga akan menjadi awal dari sebuah pengalaman yang menyakitkan.
Ejekan di Belakang Madrasah
Setelah upacara selesai, para siswa kembali ke kelas. Ketika Anjani hendak masuk, Nina tiba-tiba memanggilnya.
“Anjani, ikut aku sebentar. Ada yang mau aku tunjukkan,” kata Nina.
Anjani pun mengikuti Nina ke belakang madrasah. Di sana sudah ada beberapa teman Nina.
“Kenapa kita ke sini?” tanya Anjani.
Salah seorang dari mereka tertawa.
“Lihat, itu Anjani! Gaya sekali dengan topi birunya!”
Teman yang lain ikut tertawa. Mereka mulai mengejek Anjani. Ada yang menghina penampilannya dan ada pula yang mengatakan hal-hal yang membuat Anjani merasa malu.
Anjani terdiam. Wajahnya mulai memerah.
“Sudahlah. Jangan mengejek aku,” pintanya dengan suara pelan.
Namun, mereka justru semakin tertawa.
Anjani akhirnya menyadari bahwa dirinya sedang mengalami perundungan secara verbal, yaitu perbuatan menyakiti seseorang melalui kata-kata, seperti mengejek, menghina, atau mempermalukannya.
Anjani ingin menangis, tetapi ia berusaha menahannya.
Untunglah, tidak lama kemudian seorang anak bernama Alya datang menghampirinya.
“Kamu tidak apa-apa, Anjani?” tanya Alya.
Anjani menggeleng sambil menunduk.
“Jangan takut. Kamu tidak sendirian. Kalau mereka melakukan itu lagi, ceritakan kepada guru atau orang tuamu,” kata Alya.
Mendengar perkataan Alya, hati Anjani sedikit lebih tenang. Hari itu, Anjani menemukan seorang teman yang benar-benar peduli kepadanya.
Ketika bel pulang berbunyi, Anjani berjalan pulang. Sepanjang perjalanan, ia memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya.
“Apakah aku memang pantas diperlakukan seperti itu?” pikirnya.
Air matanya hampir jatuh, tetapi ia segera mengusapnya.
Perundungan Semakin Parah
Keesokan harinya, Anjani kembali ke madrasah. Ia berharap kejadian kemarin tidak akan terulang. Namun, ternyata harapannya tidak sesuai kenyataan.
Nina dan kelompoknya kembali mengganggunya.
Mereka mengejek Anjani, menyiramnya dengan air, mendorong, bahkan memukulnya. Mereka juga menyebarkan gosip yang tidak benar tentang Anjani kepada teman-teman lainnya.
Anjani merasa sangat takut.
Ia bertanya dalam hati, “Mengapa mereka melakukan semua ini kepadaku?”
Hari demi hari, perundungan tersebut membuat Anjani semakin sedih. Ia menjadi takut datang ke madrasah. Bahkan, ia mulai kehilangan semangat untuk belajar.
Akhirnya, Anjani tidak masuk madrasah selama satu minggu.
Di rumah, Anjani lebih sering diam. Ia tidak lagi bercerita tentang sekolah seperti biasanya. Melihat perubahan sikap putrinya, ayah dan ibunya merasa khawatir.
“Anjani, ceritakan kepada Ayah dan Ibu. Apa yang terjadi?” tanya ayahnya.
Awalnya Anjani hanya menunduk. Namun, ketika ibunya memeluknya, air matanya tidak terbendung lagi.
“Anjani dibully di madrasah, Bu,” katanya sambil menangis.
Ayah dan ibunya terkejut. Mereka kemudian mendengarkan cerita Anjani dengan penuh perhatian.
“Kamu tidak salah, Nak. Tidak seorang pun berhak menyakiti dan merendahkanmu,” kata ibunya.
Ayah Anjani kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada pihak madrasah. Guru dan kepala madrasah segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Nina dan teman-temannya akhirnya dipanggil ke ruang kepala madrasah. Mereka diberi nasihat dan penjelasan bahwa perundungan adalah perbuatan yang tidak baik. Perbuatan tersebut dapat membuat orang lain terluka, takut, bahkan kehilangan semangat untuk belajar.
Kepala madrasah berkata dengan tegas, “Madrasah harus menjadi tempat yang aman bagi semua siswa. Tidak boleh ada yang mengejek, memukul, mempermalukan, atau menyakiti teman. Jika kalian mengulangi perbuatan tersebut, akan ada sanksi tegas sesuai dengan aturan madrasah.”
Nina dan teman-temannya terdiam. Mereka mulai menyadari bahwa perbuatan mereka telah membuat Anjani sangat terluka.
Berani Bangkit
Setelah satu minggu tidak masuk madrasah, Anjani akhirnya memberanikan diri untuk kembali. Pagi itu, langkahnya terasa berat. Ia masih merasa takut.
Namun, Anjani mengingat pesan ibunya.
“Kamu tidak sendiri. Jangan takut untuk mengatakan yang benar.”
Sesampainya di kelas, Nina menghampiri Anjani.
“Anjani, maafkan aku,” kata Nina dengan wajah menyesal.
Anjani terdiam sejenak. Ia masih mengingat semua perlakuan buruk yang pernah diterimanya.
“Aku memang masih sedih dengan semua yang terjadi,” jawab Anjani. “Tetapi, aku menghargai keberanianmu untuk meminta maaf.”
Nina mengangguk.
“Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”
Sejak saat itu, hubungan Anjani dan Nina perlahan membaik. Mereka memang terkadang berbeda pendapat dan berselisih seperti teman pada umumnya, tetapi mereka belajar menyelesaikan masalah tanpa saling menyakiti.
Alya pun tetap menjadi sahabat yang selalu mendukung Anjani.
Beberapa waktu kemudian, Anjani mendapatkan kesempatan untuk berbicara di depan teman-temannya.
“Teman-teman, kita semua berbeda. Ada yang berbeda dalam penampilan, kemampuan, keadaan keluarga, dan kesukaan. Namun, perbedaan bukan alasan untuk saling mengejek,” kata Anjani.
Semua siswa mendengarkan dengan saksama.
“Jika kita melihat teman sedang sedih atau mengalami perundungan, jangan ikut menertawakan. Kita harus membantu dan melaporkannya kepada guru atau orang tua. Jangan takut untuk berkata STOP!”
Nina kemudian berdiri dan berkata, “Aku setuju dengan Anjani. Kita harus saling menghargai dan menjaga.”
Sejak hari itu, siswa-siswa MIN 5 Kota Banda Aceh berusaha menciptakan lingkungan madrasah yang lebih aman dan menyenangkan. Mereka belajar bahwa setiap anak berhak merasa aman, dihargai, dan diterima.
Anjani pun kembali tersenyum. Pengalaman pahit yang pernah dialaminya membuat dirinya menjadi anak yang lebih kuat dan berani.
Kini, Anjani memahami bahwa “keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap melakukan hal yang benar meskipun kita merasa takut”.
Ia juga belajar bahwa satu kebaikan kecil dapat memberikan kekuatan besar bagi seseorang yang sedang terluka.
Sejak saat itu, Anjani selalu mengingat satu kalimat yang menjadi penyemangatnya:
“Jangan menjadi alasan seseorang menangis. Jadilah alasan seseorang kembali tersenyum.”
Pesan Moral
Perundungan bukanlah candaan. Mengejek, menghina, menyebarkan gosip, menyiram, mendorong, atau memukul teman dapat meninggalkan luka yang dalam.
Jika mengalami perundungan, jangan diam. Ceritakan kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dapat dipercaya. Jika melihat teman dirundung, jangan ikut menertawakan. Beranilah membantu dan melaporkannya.
STOP BULLYING!
Berani berkata “STOP”, berani melindungi teman!


